Rabu, 21 Desember 2011

Love at the First Sight
          Sepertinya Tuhan sedang melukiskan garis nasib baikku di kanvas takdir miliknya. Buktinya, aku mendapat karunia yang sangat indah darinya hari ini. Wajah itu, seperti salah satu mahakarya terbaik yang pernah diciptakan Tuhan. Matanya tajam menghipnotis seakan jika kau menatapnya, kau tidak akan bisa berpaling. Hidungnya yang kecil dan melancip. Bibir tipis dengan senyuman yang bisa melelehkan isi dunia. Dan juga, langkah santainya akan membuat kita merasa sedang berjalan menuju tempat terindah sejagat raya. Apakah aku terkesan berlebihan? Sepertinya tidak. Karena memang itulah kesan yang aku terima ketika tidak sengaja melihat wajahnya di kantin sekolah pagi itu.
          Terdengar riuh teriakan siswa-siswi yang sedang berdesak-desakkan membeli makanan ringan atau pun minuman di salah satu kios kantin di situ. Aku terbengong melihat lautan kepala yang bergolak tidak karuan itu.
          “Kenapa tidak pernah dipraktikkan budaya antri?” Pikirku. Daerah tempat tinggalku–bahkan negaraku–mungkin tidak mengenal yang namanya antri. Berteriak dan mendorong adalah satu-satunya hal yang mereka ketahui saat sedang membeli atau ingin mendapatkan sesuatu. Kebiasaan ini seperti menjerumuskan moral dan etika bangsa. Namun apa boleh buat, sangat mustahil jika ingin merubah tradisi yang sudah turun temurun ini.
          Kebisingan itu tidak mengusik konsentrasiku untuk memandang Taemin, laki-laki berwajah malaikat yang dikirimkan Tuhan untukku hari ini. Namun jarak 10m yang memisahkan kami cukup mengganggu, apalagi aku sedang tidak menggunakan kacamata yang membuat wajahnya kurang jelas terlihat. Tetapi, aku masih bisa memastikan bahwa orang yang sedari tadi kupandangi adalah Taemin. Beberapa orang yang lalu lalang menghalangi pandanganku, membuat aku sesekali mendesah frustasi karena tidak puas menangkap wajahnya dengan mataku. Ditambah lagi ketika Dinda mengajakku membeli minuman di kios kantin yang penuh dengan manusia itu. Dengan enggan aku mengikutinya sambil membetulkan letak poni yang mulai tidak karuan ini. Aku tidak ingin terlalu dekat dengan kerumunan yang bisa saja membuatku terinjak-injak dan tewas. Oleh karena itu, aku berdiri sedikit kebelakang dan mencari letak strategis untuk menunggu kerumunan menjadi sedikit lebih sepi. Tetapi ada yang salah, ternyata tempatku berdiri tidak seaman yang kukira. Buktinya barusan ada seseorang yang entah sengaja atau tidak menabrakku dari belakang dengan sangat keras.
          “Aduh, hati-hati lah.” Spontan aku berkata demikian sambil menoleh dan melihat pelaku penabrakan ini. Namun ternyata Tuhan punya rencana lain. Tuhan merancang agar Taeminlah yang menabrakku hari ini. Alhamdulillah, ucapku dalam hati.
          “Eh maaf ya.” Dia menjawab sambil berlalu dengan santainya. Sedikit kesal memang, karena hanya itu respon yang diberikannya. Aku melanjutkan kegiatan yang sempat tertunda untuk mengalihkan rasa kecewaku. Akan tetapi siapa yang tahu bahwa ternyata Taemin juga tengah memikirkanku.
***
          Beruntung aku bertemu Taemin, dia sekarang berperan sebagi motivator agar aku menjadi bersemangat untuk pergi ke sekolah. Jika dihitung, ini adalah hari ke-20 aku memendam perasaanku terhadap bocah tampan itu. Tidak ada rasa jenuh walau hanya mengaguminya dari jauh saja. Malah aku bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk tetap menyukainya seperti ini.
          Saat sedang duduk menikmati santapan makan pagi menjelang siangku ini, aku tidak melihat Taemin ada di sekitar sana. Tetapi entah kenapa, aku merasakan kalau sebenarnya dia berada di sana hanya saja mataku tidak sanggup menjangkaunya. Saking seriusnya memikirkan Taemin, ternyata piring dihadapanku sudah kosong melompong dan licin sekali. Karena belum terdengar bel tanda masuk, aku pun hanya menopang dagu dengan kedua tangan dan memejamkan mata. Hal ini kulakukan sambil menunggu teman-temanku yang lain menyelesaikan makannya.
Satu menit…
Lima menit…
          Sudah 8 menit aku memejamkan mata hingga hampir tertidur. Dengan berat, mata ini mencoba untuk membuka, dan alangkah terkejutnya aku ketika wajah yang kulihat di hadapanku ini bukan temanku melainkan orang lain. Aku telusuri wajahnya. Dia mempunyai mata tajam menghipnotis yang apabila kita menatapnya, kita tidak akan bisa berpaling. Hidungnya kecil melancip. Di bibirnya terpampang senyum yang benar-benar mulai melelehkan isi dunia termasuk diriku ini. Siapakah dia? Ya, dia adalah Taemin.

THE END

By : Vabiola Besti Delmonda